Tampilkan postingan dengan label chronometry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chronometry. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

SELFTALK & CONTEMPLATION: NASIHAT DI BALIK POLA ALAM


Nasihat dan renungan itu ada di mana saja, kapan saja, dan dari apa/siapa saja. Mereka ada dalam semesta, ada pada orang-orang yang berinteraksi denganmu hari ini. Mereka ada di simpang ramai jalanan, maupun pojokan sepi lembab dan kotor. Mereka pun ada ketika kamu membuka mata, ketika sedang menyetir, bekerja, ataupun ketika kamu hendak menutup mata.

Pernahkah kamu memikirkan bahwa keberadaan pola-pola alam di sekitar kita adalah sebuah contoh untuk menyikapi persoalan yang sedang menimpa kita? Seperti daun yang gugur di musim kemarau sebagai mekanisme pertahanan hidup sebuah pohon. Sebut saja itu pohon Jati (Tectona grandis).

Pohon jati menggugurkan daun di musim kemarau guna mengurangi laju penguapan uap air di tubuhnya. Sebagaimana yang kita tahu, daun merupakan dapur bagi poho yang berperan dalam proses fotosintesis. Fungsi daun amat penting bagi keberlangsungan hidup pohon tersebut. Namun pada kenyataannya daun adakalanya digugurkan.

Seperti dalam hidup, terkadang untuk mempertahankannya, kita dihadapkan pada suatu pilihan yang pelik untuk mengorbankan sesuatu yang kita anggap penting. Sebut saja kesenangan masa muda. Tak banyak anak muda yang mau mengorbankan kesenangan masa mudanya untuk menambah ilmu dan menambah kebisaan/skill. Investasi tersebut mungkin tidak langsung dirasakan, namun akan dirasakan manfaatnya setelah dewasa

Semua pelajaran tersebut ada dan tersedia menyertai hidup. Tinggal apakah kita cukup sadar untuk dapat merasakan keberadaannya itu. Dan sebesar apa kemauan kita untuk menyadari bahwa Tuhan telah berkata kepada kita lewat ciptaannya. Ada renungan di balik hal-hal yang (mungkin) kita anggap remeh dan tak berarti. Namun sejatinya itu kembali kepada mindset dan paradigma kita dalam memandang hidup.


#SekadarKontemplasi

CHRONOMETRY: MEET AND BOOK-SIGNING ICO'S NEW BOOK


Minggu siang di Lippo Karawaci, saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan salah seorang sahabat dan juga tim di INDIGO COMMUNITY, Ricardo Marlianno (Ico). Momen sebentar ini saya manfaatkan untuk ngobrol tentang situasi komunitas, semacam mini review tentang divisi yang dia pegang (Marcomm). Dan maksud utama ketemuannya adalah untuk book-signing buku terbarunya, Modern Spellbook.

Buku ini adalah satu dari karya yang cukup saya nantikan sejak awal tercetusnya ide penulisannya. Karena saya tau effort dan kendala yang dihadapi Ico saat proses penulisan hingga pencetakan yang sangat menantang. Termasuk keputusannya untuk menghandle sendiri semua proses penciptaan karyanya. Oleh karena itu dari segi produksi, publikasi, branding, dan pemasaran dilakukan sendiri secara online.

Harapan besar tercurah kepada pemerintah baru RI untuk dapat memajukan industri kreatif dan mengkaji ulang regulasi penerbitan dari para penerbit agar dapat berpihak kepada insan-insan muda berbakat di Indonesia.

Momen ini bagi saya sarat akan nilai persahabatan dan untuk memberikan motivasi agar terus berkarya.

Sejujurnya saya sangat appreciate dengan rekan-rekan muda yang aktif berkarya dan menelurkan manfaat bagi diri dan orang banyak. Menelurkan ide dan memfokuskan energi serta waktunya kepada hal-hal yang membangun.

#IndonesiaGo!

Minggu, 28 September 2014

QUOTE: You want something, go get it. Period!

”Don’t ever let someone tell you, you can’t do something. Not even me. You got a dream, you got to protect it. People can’t do something themselves, they want to tell you "you can’t do it". You want something, go get it. Period.”


Quote is taken from The Pursuit of Happyness.

Sabtu, 06 September 2014

MOTIVATION: KEKUATAN VISUALISASI DALAM MERAIH CITA-CITA


Sedikit berbagi pengalaman yang behubungan dengan kekuatan visualisasi mimpi.

Saya memiliki rekan kerja di Dimension Data Indonesia, yang telah berusia di atas 40 tahun, bernama Lie Surya.

Beliau memiliki hobi yaitu lari (tapi bukan lari dari kenyataan, hehehe). Suatu ketika karena keisengan yang luar biasa dan memang saat itu dapat ide, saya buatkan foto manipulasi wajah Pak Surya yang ditempelkan pada foto seorang finisher Triathlon.

Sebenarnya tidak ada pikiran macam-macam tentang gambar ini, sekadar lucu-lucuan dan menyalurkan hobi tentang dunia digital narcissistic. Maka jadilah manipulasi foto seperti yang ada di samping kanan kita ini.

***


Waktu berlalu kurang lebih 1 tahun. Dan siang itu ketika makan siang Pak Surya bercerita dengan bangganya bahwa beliau telah mengikuti kompetisi triathlon di Melbourne, Australia.
Menjadi seorang Finisher dalam ajang Triathlon adalah impiannya sejak menggeluti dunia lari. Beliau pernah beberapa kali mengikuti ajang yang sama namun belum kunjung berhasil menang.

Foto manipulasi yang satu tahun yang lalu saya berikan kepada dia ternyata digunakannya untuk inisiasi saat latihan. Sebelum latihan, beliau melihat foto tersebut dan membayangkan bahwa ia akan finish dalam waktu yang disediakan. Hal itu dilakukan berulang2 tiap memulai latihan. Walhasil akhirnya mimpinya terwujud, beliau berhasil finish dengan perolehan waktu 16 jam 7 menit, dengan batas waktu 17 jam.

"This picture makes my vision vivid and clear. And I happy to see it before exercise” katanya kepada saya saat itu.


Oleh karena itu, baik rasanya membagi hal ini kepada rekan-rekan sekalian. Bahwa dengan memperjelas impian melalui visualisasi adalah satu cara mendekati realisasi itu sendiri. Dengan visualisasi membuat impian maupun target menjadi jelas.





Perjelas target hidup serta apapun yang ingin diraih. 
Biarlah Tuhan yang meng-acc, tugas kita hanya "berlari" menuju target tersebut.

Wish your day wonderful ...



Kamis, 09 Februari 2012

CHRONOMETRY II: CYCLE OF HATRED


Chronometer:
- Senin, 6 Februari 2012. 17.30 WIB
- Hari yang Cerah
- Lokasi: Private Room

Aku menghempaskan badan di kasur sambil menikmati timbunan asam laktat di sela-sela seluruh ototku.

Kupejamkan mata sejenak guna merelaksasikan syaraf-syaraf mata dan otak yang kueksploitasi seharian untuk menerjemahkan gemulai grafik penjualan perusahaan yang tinggal landas.

…

*tring tring!!*

Bunyi Blackberry Messager® (BBM) menarikku kembali dari alam bawah sadar. Kugapai Blackberry (BB) yang kuletakan di meja kecil di sebelah kasurku sambil beranjak duduk dan membaca isi BBM yang masuk.

Ternyata dari Mas Seto (nama disamarkan), seorang sahabat yang berdomisili di Surabaya. Beliau berusia 8 tahun lebih tua dariku, dan baru saja di-PHK dari perusahaan tempat ia bekerja. Belakangan ini kami sering berdiskusi berbagai macam hal. Salah satunya mengenai hakikat diri dan kehidupan.

Percakapan aku sesuaikan dari bahasa BBM aslinya (tidak disingkat-singkat dan tulisan dibuat normal), agar mudah dibaca.

Mas Seto         : Chaq dimana?
Aku                 : Di kamar, mas.
Mas Seto         : Aku pengen ngancurin kantorku yang kemarin sampai bangkrut. Kira-kira gimana menurut kamu?

Aku terdiam sejenak dan mengernyitkan dahi. Bagiku agak ajaib pernyataan sekaligus pernyataan dia.

Aku                 : Mas sudah tahu jawabanku apa.
Mas Seto         : Hm…Terus bagaimana enaknya?
Aku                 : Kenapa power ga digunakan utuk sesuatu yang lebih membangun?
Mas Seto         : Hm…Gitu ya? Oke…oke…
Aku                 : Aku rasa menghancurkan itu mudah mas. Kalau jalan seperti ini aku tempuh, Ditya dari kemarin sudah saya habisi. Sekalipun aku tidak dapat menggunakan cara-cara supranatural.
Mas Seto         : Intinya kamu mau bicara bahasa lain, “lupakan yang sudah-sudah dan lihat ke depannya, gitu khan?
Aku                 : Aku berfikir, ketika suatu bulldozer menghancurkan gedung hanya dalam 1 jam saja. Tapi membangunnya kembali butuh waktu lebih dari 1 bulan.
Mas Seto         : ya ya ya ya…Aku lagi suntuk soalnya. Maap, maap, maap…
Aku                 : Saya lebih memilih membangun ketimbang  menghancurkan.
Mas Seto         : Jadi kita-kita ini dilarang “nge-kick” balik orang ya? Sampai kapan kita diam saja?
Aku                 : Kita ini cuma diminta menjadi messager koq, mas. Singkatnya “dakwatullah”. Kita diperbolehkan membalas, asal setimpal. Tapi who-knows yang kita balas akan setimpal atau tidak.
Sempat beberapa waktu yang lalu aku demikian kesal dan marah kepada mantan atasanku atas perlakukannya kepadaku. Rasanya akan puas bila bisa tersenyum ketika melihat dia ditendang dari perusahaan, layaknya yang dia lakukan dulu.
Mungkin sih, tapi aku gak mau menyianyiakan hidupku untuk memupuk kebencian tiada akhir itu. Jadi, serahkan semua kepada Tuhan.
Mas Seto         : Iya deh… Aku terima dengan ikhlas. Susah deh, mereka yang jahat-jahat bisa bertahan.
Aku                 : Mending yang jahatnya tetap satu, Mas. Jangan bertambah satu.
Mas Seto         : Menghancurkan untuk menciptakan yang baru, Chaq. Karena harus ada recycling untuk membuat yang baru.
Aku                 : …

Dan percakapan untuk topik ini pun aku cukupkan, dengan permainan kata aku alihkan percakapan ini kembali menjadi percakapan dua orang sahabat yang terlihat lebih “biasa”. Percakapan berlanjut hingga menjelang kumandang adzan magrib untuk wilayah Tangerang dan sekitarnya.

…

Jarum menit sudah tinggal landas beberapa derajat di hari yang baru ini, selepas menelepon kekasih tercinta dan ditemani secangkir teh hangat produksi Om Bino (sahabatku), dan aku pun kembali membuka-buka kembali history percakapanku dan Mas Seto tadi sore. Tiap entry aku baca dengan detil dan aku turut merasakan emosi yang bersembunyi di balik tiap hurufnya.

Kupejamkan mata diantara sila kedua kakiku. Dinginnya lantai dari balik sajadah kurasakan merayap di sepanjang tubuh hingga lobus parietal cerebro-ku. Otakku menerjemahkan secara otonom kilasan-kilasan yang datang simultan. Seakan berusaha mem-visualisasikan emosi tiap kata-kata yang dikirimkan Mas Seto kepadaku.
  
“Seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian berbahan katun sintetik dan blazer branded, yang berjalan di antara belukar yang tumbuh di sebuah sabana kering. Sambil membabat belukar-belukar yang menyangkut di kakinya dengan sebilah belati berkarat”.

Sebelumnya aku memang telah mengetahui masalah yang menimpa Mas Seto. Tentang atasannya yang merupakan seorang wanita paruh baya yang memiliki personality kurang menyenangkan. Tentang konflik-konflik yang Mas Seto alami, maupun tentang sikap atasannya kepada bawahannya yang lain. Memang kuakui bukan hal yang menyenangkan apabila berada dalam lingkungan kerja yang demikian.

Namun dari chronometry yang datang turut melengkapi puzzle yang hilang dari kasus yang dialami Mas Seto. Beberapa fakta (yang juga telah diamini oleh Mas Seto setelah itu), bahwa atasannya memiliki krisis cinta dan penerimaan diri. Betapa masa muda yang pahit dan penuh penolakan ia lewati. Bahkan rahimnya pun sepi dari mekanisme biologis antara dua sel adam-hawa di umur yang menginjak setengah zaman.

Beberapa fakta tersebut turut berkontribusi dalam membangun karakter keras dan kurangnya kepekaan terhadap perasaan orang-orang di sekelilingnya. Yang ia rasakan dan tertanam dalam alam bawah sadarnya, adalah semua orang mengalami fase seperti dia dan mampu diperlakukan layaknya menebas belukar-belukar yang membelit kakinya. Dan Mas Seto salah satu dari sekian orang yang tertebas belatinya.

http://dieyou.files.wordpress.com/2010/12/hatred.jpg

Aku jadi teringat suatu kutipan dari komik Naruto:

“Perang akan menyisakan pedih dan kebencian. Membalas dengan kebencian hanya akan melahirkan kebencian lainnya”.

Hal ini berkorelasi dengan kasus yang menimpa Mas Seto.

1. Akankah dengan membalas kepada orang yang berbuat dzolim kepada kita dapat memutus lingkaran kebencian ini?

2. Sekalipun kita diberi kemampuan membalas, yakinkah bahwa pembalasan yang kita lakukan akan adil?

3. Bukankah perbuatan yang berdasarkan kebencian dan pembalasan dendam justru akan membuat dendam baru?

4. Apakah benar “menghancurkan untuk menciptakan yang baru” itu berlaku dalam hukum sosial?

Sedikit demi sedikit terbuka jawaban atas pertanyaan lainku tentang bersabar dan ikhlas menjalani skenario-Nya.

 

***

Senin, 06 Februari 2012

CHRONOMETRY I: EPOCH MASTERPIECE

Chronometer
- Jam: 13.00 WIB. Minggu, 5 Februari 2012
- Cuaca: cerah terik,
- Lokasi: my private room


Lagi beberes meja kerja di Minggu yang terik begini, tiba2 gue nemuin 1 dari lukisan pensil yang masih gue keep di portofolio gue. Tiba-tiba teringat seseorang yang mengajarkan gue melukis real menggunakan pensil.  Beliau bernama Pak Nadrial, Guru Seni Rupa gue semasa SMP. Di antara semua guru di masa itu, beliau termasuk guru yang killer sekaligus paling gaul (baca: trendy).

Kesan pertama terhadap beliau begitu menginjak kelas 2 SMP, dimana sebelum mata pelajaran seni rupa anak-anak sekelas udah sibuk ngomongin tentang dia. Well, setelah melewati 1,5 jam pelajarannya begitu adanya. Terlepas dari sugesti dan kenyataan beliau memang punya aura yg kuat sebagai guru seni rupa.

Kesan berikutnya yang teramat menohok adalah ketika karya lukis gradasi warna gue (yang dikerjakan semalam-suntuk) dirobek jadi dua di depan mata sendiri, dan teronggok lesu di sudut meja belajar. Bagi gue yang doyan gambar dan mencintai seni, hal ini terasa 2x lebih menonjok ketimbang temen gue yang-doyan-doyan-main-final-fantasy di PS (Playstation). Karena bagi gue saat itu, inilah saat mengaktualisasikan diri hobi gue sejak TK (taman kanak-kanak). Dari sejak saat itu gue berjuang keras, sama kerasnya dengan belajar Fisika.

Minggu demi minggu tugas, tugas gue gak lagi dirobek. Yah lumayan walau dapat nilai 7,1 di saat yang lain kebanyakan dapat 6,3. Progressnya gak melulu naik, kadang turun lalu naik lagi. Sampai saat gue mulai terbiasa dengan ritmenya dan beberapa karya gue pernah masuk ke lemari koleksi sekolah yang terletak di lobi depan.

Salah satu jenis tugas yang paling berkesan karena achievementnya adalah tugas Lukisan Pensil yang dia kasih di Cawu (Catur Wulan) ke-2 kelas 3 SMP. Kali ini beda dari tugas-tugas sebelumnya, jangka waktu yang diberikan adalah 2 minggu. Terkesan cukup berat dibandingkan tugas sebelum-sebelumnya, karena "amunisi" yang harus disiapkan juga cukup kompleks.

Persiapan yang dilakukan setidaknya memerlukan waktu paling sedikit 2 hari. Mulai dari beli kertas Padalarang, penghapus pensil-pulpen yang harus dipotong zig-zag di kedua ujungnya, Pensil 6B yang dibagi-dua-dan-diserut-granitnya, penggaris butterfly transparan, kapas kecantikan yang halus, hingga kertas koran yang digulung-rapet hingga membentuk pinsil padat (belakangan gue kenal dengan nama Tortillon).

Objek yang akan digambar adalah pasfoto yang dicetak ukuran 4R. Kemudian dibuat grid kotak-kotak 1 x 1 cm dari sumbu tengah XY. Gunanya sebagai skala perbandingan dengan kertas kanvas (Padalarang). Ini metode skala untuk mereka yang baru belajar (menurut Pak Nadrial). Akhirnya gue memutuskan untuk menggunakan pasfoto gue sendiri sebagai objek lukisan pensil.

Pengerjaan lukisan setidaknya memerlukan waktu 3 hari, karena saat itu gue bener-bener technically dan tidak melibatkan feeling (yang nantinya gue temukan saat gue kuliah). Gue juga sempat meminta penilaian bokap dan nyokap "apa sudah mirip dengan fotonya?". Well, dengan beberapa penilaian dan teknik yang gue rasa cukup optimal dari apa yang gue pelajari, akhirnya selesai juga "masterpiece" pertama gue itu.

...

Tepatnya seminggu setelah hari pengumpulan, kira-kira pagi. Adrenalin gue seakan melonjak, ketika melihat karya lukisan pensil gue itu bercokol paling depan di lemari koleksi seni sekolah. Dan di pojok kanan bawah lukisannya (dekat dengan tandatangan dan tanggal penyelesaian) terdapat nilai karya dan komentar Pak Nadrial. Dengan sunggingan senyum sumringah gue berseri-seri melihat angka 9,5 dan kata-kata biasa yang terbaca mantab, "Good Job!".

Gue yang masih berdiri dan masih menggendong ransel, disadarkan oleh tepukan seorang kawan yang turut memberikan selamat. Oh God, itu hari terindah dan gak bisa gue lupakan saat ini. Yah setidaknya lukisan itu tetap duduk manis di lemari koleksi itu sampai hari terakhir gue menginjakkan kaki di SMP. Bukan ketenaran ataupun pujian yang membuat gue puas, tapi kepuasan batin karena dapat menepati janji kepada diri sendiri.

Sebuah kontemplasi yang gue sadari beberapa waktu ini, bahwa ketika kita dapat memanage ego, tenyata hasil yang didapat sering kali lebih dari apa yang kita targetkan. Sebuah ego pribadi yang mencambuk diri untuk lebih laju.


...

Dan life goes on, sejak saat itu gue gak pernah menyentuh dan membuat karya lukis pensil lagi, hingga sampai saat dimana sahabat gue (Fajar, 25th) mulai belajar lukis pensil (2007). Gue yang sering ngejam bareng sama dia jadi tertantang untuk mencoba membuat karya. Yah, jadi sebuah reuni dengan chronometry gue saat itu.

Sejak saat ngejams lukis pensil tersebut, gue jadi lebih sering menghasilkan karya. Gak jarang juga muncul orderan lukis dari beberapa kolega dan teman. Dari segi kualitas memang gak bisa disejajarkan dengan para seniman yang jam terbangnya tinggi, tapi di kesempatan ini gue mau coba menampilkan beberapa diantaranya (yang berhasil gue dokumentasikan).

Check this out, Chronofellaz !




Model: Widya Asriana (Mahasiswi Psikologi UI).
Model: dr. Arsa (RS Harapan Kita), by order.

Model: Citra (Mahasiswa Trisakti).


Model: dr. Dhamaranti ( RS Harapan Kita), by order.

Model: Mr. X (dokter dari Surabaya), by order Mrs. X.